Teras
"Petani Desa Kramat Menolak Pupuk Subsidi"
Ditulis Oleh Intitute For Social Poor & Participatory Empowerme   
Monday, 12 April 2004

    Pak Sahli dan kawan-kawan mendatangi kantor Inspire menanyakan toko dan harga pupuk urea/kaltim yang murah. mereka diterima tim Inspire, saling berkenalan,  dan terjadi obrolan panjang hingga sampai pada masalah kenapa harus pupuk urea dll ? akibat ? Hasil ? harga ? apa tidak ada pupuk alternatif yang ramah lingkungan, murah, dan berkwalitas ? Akhirnya pak sahli dkk tertarik dengan ide pembuatan pupuk organik bersama inspire. Pak sahli sanggup memobilisir teman-temanya sesama petani untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik bersama Inspire.

    Pelatihan dilaksanakan di desa kramat selama satu hari, pak mansur selaku narasumber utama tidak banyak memberikan teori, tapi setiap penjelasan langsung diikuti praktik. Ini yang menyebabkan peserta tertarik dan mudah memahami. 

    Setelah 2 bulan pelatihan, CO Inspire mencoba survey ke desa kramat Lamongan, tidak disangka ternyata sudah ada sekitar 12 orang petani yang mempraktikkan hasil pelatihan tersebut pada sawah masing-masing. Mereka membuat pupuk organik secara gotongroyong dengan urunan bahan dan bagi tugas dan dikerjakan bersama-sama, hasilnya dibagi bersama. Akhirnya Inspire menjanjikan pelatihan berikutnya, yakni membuat pupuk cair dan obat anti hama.

    Saat ini terjadi kelangkaan pupuk urea dan kaltim di kabupaten lamongan, tetapi  tidak menjadi masalah bagi petani desa kramat, sebab mereka sudah mampu membuat pupuk sendiri kapan saja, berapapun, dimanapun.

 

 

 

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 26 November 2008 )
 
Tukang Becak Bikin Koperasi
Ditulis Oleh Intitute For Social Poor & Participatory Empowerme   
Monday, 09 August 2004

Setelah mendeklarasikan Paguyuban Becak Lamongan (PBL) kembali tukang becak Lamongan membuat gebrakan baru dalam upaya memberdayakan diri dan keluarganya dengan membuat Koperasi Simpan Pinjam khusus tukang becak yang di beri nama KOPABEL (koperasi Paguyuban Becak Lamongan

Dengan bermodal 5 jt dan sumbangan dari para simpatisan para tukang becak berupaya untuk membuat pinjaman bergulir kepada setiap anggota dengan besaran pinjaman antara Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000

Meskipun tidak begitu besar tetpi cukup membantu tukang becak dalam kebutuhan yang mendadak seperti membayar uang sekolah dan lain-lain.

Menurut ketua KOPABEL Slamet Jayusman, kondisi keuangan KOPABEL masih belum memungkinkan untuk memberi bantuan modal usaha yang cukup untuk sekedar membantu anggota tukang becak membuka usaha dagang, pinjaman yang selama ini berjalan di maksudkan untuk menjalin silaturrahmi antar anggota paguyuban "biar ada ikatan emosioal yang semakin kuat antara tukang becak maka pinjaman ini di berikan" ujar Slamet. 

 

 

 

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 26 November 2008 )
 
berani, adil, setara, dan transparan
Sample ImageLamongan, inspire- Karena merasa dimarginalkan dan tidak dianggap keberadaanya oleh Pemerintah Daerah Kabupat
Becak Deklarasikan Paguyuban

Becak Deklarasikan PAguyuban

en Lamongan, akhirnya 500 tukang becak berkumpul di alon alon kota Lamongan untuk mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Becak Lamongan.

Menurut ketua Paguyuban Becak Lamongan Nur Arifin, tujuan didirikannya Paguyuban ini adalah untuk memperjuangkan nasib tukang becak yang ada di Lamongan, sementara ini jumlah penduduk lamongan yang berprofesi sebagai tukang becak lebih dari 1500 orang, "kalau yang mangkal di Lamongan kota saja lebih dari 1500 orang untuk di daerah-daerah seperti Babat, Sukodadi, paciran, Blimbing dan lain-lain jumlah pastinya saya kurang tau" demikian diungkapkan oleh Nur Arifin

Selama saya mancal becak saya belum pernah mendapatkan bantuan dari PEMKAB Lamongan apakah itu bantuan modal, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, bahkan kebanyakan tukang becak di lamongan tidak mendapat jatah raskin dan askeskin, apalagi program baru yang saya dengar-dengar ada PKH" demikian diungkapkan oleh Ketua PBL.

Ketua PBL berharap dengan adanya persatuan dan kesatuan antara tukang becak yang ada di Kabupaten Lamongan ini pengurus bekerja sama dengan LSM oramas dan lain-lain bisa bersama-sama  memperjuangkan nasib anggota Paguyuban yang selama ini tidak mendapat perhatian yang layak sebagai kaum miskin, bahkan cenderung di anggap remeh dalam pelayanan publik. "Sebagai orang miskin kita merasa keberatan dengan biaya pendidikan dan kesehatanyang mahal" demikian diungkapkan oleh Ketua PBL. (ex)

 

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Poling

Bagaimana Situs Ini
 

Shout Box

Latest Message: 4 days, 5 hours ago
  • muhadi : semoga sukses
  • lia : to cak muadz...! paguyuban becak sudah, koperasi sudah, nelayan sudah, radio komunitas sudah. sekarang tinggal go.............! internasional. tingkatkan kwalitas
  • zudi : salam perjuangan.... hebat! kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi publik. tetap abdikan diri membela kaum mustadh'afin. 8O
  • Sekorakyat : Salam kenal dari Sekolah Rakyat di Limbangan Kendal
  • ciwir : inspirela semoga jadi ujung tombak kemajuan lamongan. (dari ciwir- magelang, yang punya banyak teman di lamongan)
  • komdempel : «link» bisa gak saling silaturrahmi??
  • muadz : 3 orang korban banjir mengadu ke markaz isnpire, minta ketegasan pemkab untuk recovery laren, yo ayo ngelurug nang pemkab. mereka siap pertengahan bulan april. yok opo konco2 LSM lamongan, melu ta? :x :roll:
  • Idris : Mudah-mudahan dengan adanya Inspirela, kaum miskin lebih diperhatikan lagi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sukses
  • Roy Mahfudz : Profile endi cak, kok gak perna diiseni. nek gak iso tak isenane. :twisted:
  • Jkt : Kenapa profilnya tidak ada nih... waduh

Anda harus Login untuk membuat shout box!


Syndicate

Berita Utama

Becak Deklarasikan Paguyuban

Becak Deklarasikan PAguyuban

Sample ImageLamongan, inspire- Karena merasa dimarginalkan dan tidak dianggap keberadaanya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, akhirnya 500 tukang becak berkumpul di alon alon kota Lamongan untuk mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Becak Lamongan.

Menurut ketua Paguyuban Becak Lamongan Nur Arifin, tujuan didirikannya Paguyuban ini adalah untuk memperjuangkan nasib tukang becak yang ada di Lamongan, sementara ini jumlah penduduk lamongan yang berprofesi sebagai tukang becak lebih dari 1500 orang, "kalau yang mangkal di Lamongan kota saja lebih dari 1500 orang untuk di daerah-daerah seperti Babat, Sukodadi, paciran, Blimbing dan lain-lain jumlah pastinya saya kurang tau" demikian diungkapkan oleh Nur Arifin

Selama saya mancal becak saya belum pernah mendapatkan bantuan dari PEMKAB Lamongan apakah itu bantuan modal, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, bahkan kebanyakan tukang becak di lamongan tidak mendapat jatah raskin dan askeskin, apalagi program baru yang saya dengar-dengar ada PKH" demikian diungkapkan oleh Ketua PBL.

Ketua PBL berharap dengan adanya persatuan dan kesatuan antara tukang becak yang ada di Kabupaten Lamongan ini pengurus bekerja sama dengan LSM oramas dan lain-lain bisa bersama-sama  memperjuangkan nasib anggota Paguyuban yang selama ini tidak mendapat perhatian yang layak sebagai kaum miskin, bahkan cenderung di anggap remeh dalam pelayanan publik. "Sebagai orang miskin kita merasa keberatan dengan biaya pendidikan dan kesehatanyang mahal" demikian diungkapkan oleh Ketua PBL. (ex)

 

 
Kapabel Berhasil Mendesak Pemkab

"Merebut Hak Dan Mendesakkan Anggaran untuk Kaum Miskin Kota"

    Kapabel adalah koperasi paguyuban becak lamongan, yang didirikan beberapa bulan yang lalu. Salah satu usaha kapabel adalah simpan-pinjam yang diangsur mingguan (setiap hari kamis) dan menabung harian. usaha lain adalah pendirian warung kopi /makan khusus para abang becak. Omset hingga bulan ini sudah mendekati 8 juta.

    Setelah melalui aksi demontrasi, hearing, audiensi dengan DPR dan eksekutif dengan tuntutan "kesetaraan hak untuk mendapat bantuan modal usaha (dana revolving PAK APBD 2008 Lamongan)" akhirnya pemkab menyerah dan bersedia memberikan tuntutan tersebut berupa pinjaman modal senilai Rp 180.000.000 (seratus delapan puluh juta) dengan jangka waktu 3 tahun.

     Dana tersebut direncanakan untuk membeli bella (becak bermesin) untuk anggota PBL (Paguyuban Becak Lamongan) yang berdiri pada desember 2007 kemarin. Keberhasilan "merebut hak" dan "mendesakkan anggaran bagi masyarakat miskin kota dan desa" bukan tanpa rintangan dan halangan, ada koperasi IKATEMAN di kota yang sama, merasa tersaingi hingga sesumbar " nek iso ngolehno becak mesin, tak ombe uyohmu" (red ; jika pengurus kapabel mampu mendapatkan dana APBD dari pemkab untuk membeli becak mesin, sebagai tantangan akan saya minum air kencingmu). Nada sumbar dan sinis selalu diterima sebagai motivasi dan tantangan tersendiri bagi teman-teman kapabel, mereka (Kapabel) tidak pernah menggubris umpatan, cacian, dan hinaan tersebut. semua disikapi dengan rendah hati, sabar, dan semangat.

    Kapabel telah dipercaya Pemkab mewakili koperasi lamongan untuk  menjadi delegasi peserta Pelatihan Koperasi tingkat Provinsi. Suwarji, salah satu bendahara kapabel yang berangkat mengikuti pelatihan menuturkan " hampir 90 % peserta pelatihan belum mengerti pembukuan, arus kas, dan yang parah hanya kapabel yang sudah berbadan hukum, peserta yang lain tidak mengerti soal payung hukum koperasi". Suwarji merasa bertambah ilmu dan relasi/jaringan se jawa timur setelah mengikuti pelatihan tersebut.

    Seperti diketahui, PBL dan Kapabel adalah komunitas kaum miskin kota dampingan CO Inspire sejak juli 2007. Keberhasilan kecil ini awal keberhasilan besar yang menunggu. "Bukankah gunung dibentuk dari kerikil-kerikil !?!"

 

 

 

 
"Petani Desa Kramat Menolak Pupuk Subsidi"

    Pak Sahli dan kawan-kawan mendatangi kantor Inspire menanyakan toko dan harga pupuk urea/kaltim yang murah. mereka diterima tim Inspire, saling berkenalan,  dan terjadi obrolan panjang hingga sampai pada masalah kenapa harus pupuk urea dll ? akibat ? Hasil ? harga ? apa tidak ada pupuk alternatif yang ramah lingkungan, murah, dan berkwalitas ? Akhirnya pak sahli dkk tertarik dengan ide pembuatan pupuk organik bersama inspire. Pak sahli sanggup memobilisir teman-temanya sesama petani untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik bersama Inspire.

    Pelatihan dilaksanakan di desa kramat selama satu hari, pak mansur selaku narasumber utama tidak banyak memberikan teori, tapi setiap penjelasan langsung diikuti praktik. Ini yang menyebabkan peserta tertarik dan mudah memahami. 

    Setelah 2 bulan pelatihan, CO Inspire mencoba survey ke desa kramat Lamongan, tidak disangka ternyata sudah ada sekitar 12 orang petani yang mempraktikkan hasil pelatihan tersebut pada sawah masing-masing. Mereka membuat pupuk organik secara gotongroyong dengan urunan bahan dan bagi tugas dan dikerjakan bersama-sama, hasilnya dibagi bersama. Akhirnya Inspire menjanjikan pelatihan berikutnya, yakni membuat pupuk cair dan obat anti hama.

    Saat ini terjadi kelangkaan pupuk urea dan kaltim di kabupaten lamongan, tetapi  tidak menjadi masalah bagi petani desa kramat, sebab mereka sudah mampu membuat pupuk sendiri kapan saja, berapapun, dimanapun.

 

 

 

 
Nelayan Kranji Membentuk Paguyuban

"Nelayan Melawan"

    Berawal dari hobby cangkru'an ngopi di warung sekitar TPI (Tempat Pelelangan Ikan) , CO inspire dan sahabat-sahabat mahasiswa berkenalan dengan para nelayan yang marah-marah sebab harga BBM naik sementara hasil tangkapan dan harga ikan turun. Ngobrol panjang akhirnya sampai pada pembicaraan akar masalah kemiskinan nelayan pantura. Pembicaraan dan diskusi menjadi menarik sehingga bapak-bapak nelayan merasa perlu melanjutkan diskusi lebih inten dan serius di tempat dan waktu berikutnya. Akhirnya disepakati akan ada pertemuan lagi di base camp PMII bersama bapak-bapak nelayan yang lebih banyak.

    Dalam pembicaraan di base camp PMII menghasilkan kesepakatan pentingnya organisasi nelayan yang mandiri dan solid, tidak seperti HNSI yang tergantung oleh politik pemerintah. Diskusi hingga larut malam merekomendasikan pertemuan berikutnya di musholla desa kranji dengan agenda inventarisasi problem nelayan, upaya dan solusinya, menyusun misi-visi-pokja, dan sosialisasi organ baru.

    jumlah nelayan yang ikut rembug di musholla kranji  semakin banyak dan serius, adapun hasilnya adalah :

A. Problem Nelayan 

    1. Budaya nelayan bergeser ke arah konsumtif dan pragmatis

    2. Pembangunan nasional bias darat

    3.  Konflik alat tangkap dan wilayah tangkap,

    4. harga BBM naik, hasil tangkapan menurun

    5. ketergantungan  nelayan pada tengkulak menyebabkan nelayan tidak memiliki bargain terhadap penentuan harga ikan dan sistem lelang tidak dijalankan.

 B. Rekomendasi

1. membentuk organ nelayan mandiri/independen dengan nama " PANJI"/Paguyuban Nelayan Kranji

2. mengajak dan mensosialisasikan organ baru kepada seluruh nelayan di kab. lamongan 

3. meningkatkan intensitas pertemuan anggota dan pengurus guna memperkuat PANJI 

 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini20
mod_vvisit_counterKemarin22
mod_vvisit_counterMingu Ini20
mod_vvisit_counterBulan Ini20
mod_vvisit_counterSemua3697